1. Koharmatau

Seiring dengan perkembangan ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang demikian pesat, Koharmatau yang bertugas dan bertanggungjawab terhadap kesiapan alutsista yang berbobot teknologi tinggi dan padat materiel perlu mengembangkan kemampuan untuk menjawab berbagai tantangan di masa mendatang sehingga dapat ikut serta dalam mewujudkan sosok TNI AU yang handal dan dapat dibanggakan. Pengabdian Koharmatau sudah menorehkan banyak prestasi yang membanggakan dalam melaksanakan pemeliharaan alutsista beserta komponennya dalam rangka mendukung kesiapan operasi TNI AU. Meskipun demikian harus diakui bahwa masih banyak hal yang perlu ditingkatkan agar peran tersebut terlaksana secara optimal. Belum optimalnya pencapaian peran Koharmatau dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya antara lain disebabkan oleh keterbatasan anggaran sehingga fasilitas dan peralatan pemeliharaan serta dukungan suku cadang dan bits and pieces tidak terdukung secara optimal.

Untuk dapat memberikan kontribusi yang optimal dalam program modernisasi TNI AU dihadapkan pada tantangan tugas ke depan, profil Koharmatau perlu terus dikembangkan sejalan dengan perkembangan kekuatan pokok minimum TNI Angkatan Udara/MEF sampai dengan tahun 2024. Pengembangan profil Koharmatau lebih ditekankan pada peningkatan kinerja organisasidan pengawakannya serta pengembangan kemampuan satuan jajarannya.

Peningkatan Kemampuan Koharmatau

Dalam upanya meningkatkan kemampuan Koharmatau dan jajaran, maka dirumuskan berbagai titik berat peningkatan kemampuan, yaitu :

Pelaksanan Validasi Organisasi Depohar jajaran yang meliputi meliputi:

  1. Pelaksanan Validasi Organisasi Depohar jajaran yang meliputi meliputi:
    1. Pembentukan Sathar 24 (PTTA) Depohar 20
    2. Pembentukan Sathar 34 (Hercules dan Cassa) Depohar 30
    3. Pembentukan Sathar 43 (Simulator) Depohar 40
    4. Pembentukan Sathar 43 (Simulator) Depohar 40
    5. Pembentukan Sathar 43 (Simulator) Depohar 40
    6. Pembentukan Depohar 90 (Har berat pesawat Helikopter)
  2. Perluasan dan intensifikasi kerja sama dengan imstansi di luar TNI AU yang bergerak di bidang Iptek kedirgantaraan dalam rangka membantu menyelesaikan permasalahan dalam pemeliharaan alutsista di Depo-Depo pemeliharaan.
  3. Perluasan dan intensifikasi kerja sama dengan imstansi di luar TNI AU yang bergerak di bidang Iptek kedirgantaraan dalam rangka membantu menyelesaikan permasalahan dalam pemeliharaan alutsista di Depo-Depo pemeliharaan.
  4. Perluasan dan intensifikasi kerja sama dengan imstansi di luar TNI AU yang bergerak di bidang Iptek kedirgantaraan dalam rangka membantu menyelesaikan permasalahan dalam pemeliharaan alutsista di Depo-Depo pemeliharaan.

Tugas dan Fungsi Koharmatau Saat Ini

Sesuai Peraturan Kasau nomor Perkasau/41/2015 tanggal 29 Desember 2015 tentang Pokok-pokok Organisasi dan Prosedur Mako Koharmatau, Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara adalah Komando Utama Fungsional TNI Angkatan Udara yang berkedudukan langsung di bawah Kasau. Koharmatau bertugas melaksanakan pemeliharaan dan produksi materiel TNI Angkatan Udara serta menyelenggarakan pembinaan peralatan bengkel produksi dan publikasi teknik. Secara umum organisasi Koharmatau disusun menjadi 2 tingkat yaitu tingkat Markas Koharmatau dan tingkat Satuan Pelaksana. Dalam melaksanakan tugasnya Koharmatau menyelenggarakan fungsi-fungsi sebagai berikut:

  1. Merumuskan dan menyiapkan rencana dan program pelaksanaan pemeliharaan dan produksi materiel TNI AU serta pemelihara¬an dan pembekalan senjata serta amunisi berdasarkan rencana dan program kerja TNI AU.
  2. Melaksanakan pemeliharaan alutsista TNI AU khususnya tingkat depohar dan memberikan bantuan pemeliharaan lapangan.
  3. Melaksanakan pemeliharaan dan pembekalan rudal, senjata, dan amunisi.
  4. Melaksanakan pengendalian teknis dan pelaksanaan pemeliharaan materiel alutsista.
  5. Melaksanakan kegiatan engineering pemeliharaan untuk mencapai hasil pemeliharaan sesuai dengan tingkat kesiapan, keandalan, dan kemampuan yang dipersyaratkan.
  6. Melaksanakan pengendalian kualitas pemeliharaan dan produksi serta keselamatan kerja.
  7. Membina dan melaksanakan sistem pelaporan pemeliharaan dan engineering.
  8. Menyelenggarakan, membina, dan mengembangkan kemampuan engineering.
  9. Mengawasi, mengendalikan, mengevaluasi pelaksanaan program pemelihara-an, pembekalan rudal, senjata, dan amunisi.
  10. Menyelenggarakan pembinaan peralatan bengkel, peralatan produksi, dan publikasi teknik.
  11. Menyelenggarakan dukungan dan pelayanan kesehatan, serta pembinaan jasmani personel Koharmatau.
  12. Menyelenggarakan bantuan hukum, membantu proses penyelesaian perkara hukum personel Koharmatau dan mampu dalam pembuatan perjanjian/ kontrak kerja sama Koharmatau dengan instansi lain di luar TNI AU.
  13. Menyelenggarakan penerangan pasukan, penerangan umum, dan perpustakaan.
  14. Melaksanakan perancangan, pelelangan, pelaksanaan, pengawasan, dan penerimaan kegiatan bangfas.
  15. Mengadakan koordinasi dan kerja sama dengan instansi terkait di dalam dan di luar TNI AU.
  16. Mengajukan pertimbangan dan saran kepada Kasau mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya.

Susunan Organisasi Koharmatau

Susunan Organisasi Koharmatau pada saat ini adalah :

  1. Tingkat Markas Koharmatau terdiri atas :
    1. Eselon Pimpinan
      1. Komandan Komando Pemeliharaan Materiel TNI AU, disingkat Komandan Koharmatau.
      2. Wakil Komandan Komando Pemeliharaan Materiel TNI AU, disingkat Wadan Koharmatau.
    2. Eselon Pembantu Pimpinan/Staf
      1. Staf Administrasi, disingkat Smin.
      2. Inspektorat, disingkat It.
      3. Staf Perencanaan, disingkat Sren.
      4. Staf Ahli, disingkat Sahli.
    3. Eselon Pelaksana
      1. Direktorat Pemeliharaan Pesawat Terbang, disingkat Ditharpesbang.
      2. Direktorat Pemeliharaan Senjata dan Sarana Bantuan, disingkat Ditharsenban.
      3. Direktorat Pemeliharaan Komunikasi dan Elektronika, disingkat Ditharkomlek.
      4. Direktorat Engineering, disingkat Diteng.
      5. Direktorat Personel, disingkat Ditpers.
      6. Direktorat Materiel, disingkat Ditmat.
      7. Direktorat Keselamatan Terbang dan Kerja, disingkat Ditlambangja.
      8. Publikasi Teknik, disingkat Bliktek.
      9. Keuangan, disingkat Ku.
      10. Informasi dan Pengolahan Data, disingkat Infolahta.
      11. Kesehatan, disingkat Kes.
      12. Hukum, disingkat Kum.
      13. Fasilitas dan Konstruksi, disingkat Faskon.
      14. Intelijen dan Pengamanan, disingkat Intelpam.
      15. Penerangan, disingkat Pen.
      16. Pengadaan, disingkat Ada.
      17. Pembinaan Mental, Bintal.
    4. Eselon Pelayanan
      1. Detasemen Markas, disingkat Denma.
      2. Sekretariat, disingkat Set.
    5. Tingkat Satuan Pelaksana.
      1. Depo Pemeliharaan 10, disingkat Depohar 10.
      2. Depo Pemeliharaan 20, disingkat Depohar 20.
      3. Depo Pemeliharaan 30, disingkat Depohar 30.
      4. Depo Pemeliharaan 40, disingkat Depohar 40.
      5. Depo Pemeliharaan 50, disingkat Depohar 50.
      6. Depo Pemeliharaan 60, disingkat Depohar 60.
      7. Depo Pemeliharaan 70, disingkat Depohar 70.

 

  1. Profil Satuan Jajaran Koharmatau
    1. Depo Pemeliharaan 10
      1. Sejarah Depo Pemeliharaan 10

Depohar 10 mempunyai sejarah panjang dalam dunia penerbangan di Indonesia. Organisasi ini dimulai ketika pada Tahun 1926 dimana Belanda membentuk Luchvaart Afdeling. Tugas kesatuan ini adalah melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang dari angkatan perang pemerintahan Hindia Belanda. Adapun pesawat terbang tersebut, adalah tipe Gleen L. Martin, Bewster Buffalo dan Lockheed Loader Star. Setelah pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, maka kesatuan ini digunakan untuk melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang, beserta overhaul komponen milik angkatan perang Jepang.   Kesatuan ini diberi nama Yosida Butai. Adapun pesawat terbang yang dipelihara pada waktu itu adalah tipe Bomber Nakayama, Mitzubisi, Nisikoren, Guntai, Hayakusa, dan Cukiyu.

Pada waktu perjuangan fisik, kesatuan ini dikuasai oleh tentara pendukung sekutu khususnya tentara Belanda. Oleh Belanda kesatuan ini dinamakan Eerst Vliegtuig Reparatie Basis yang disingkat IEVRB. Kesatuan ini melaksanakan perawatan tingkat berat pesawat terbang tipe B-25 “Mitchell”, P-51 “Mustang”. A-169 ”Harvard”, L-4J ”Piper Cup”, C-47”Dacota” dan Auster. Tenaga-tenaga mekanik dari IEVRB sebagian besar adalah anggota ML sedangkan bekas anggota Yosida Butai hampir semuanya keluar kota Bandung untuk ikut bergerilya dengan kesatuan lain.  Beberapa tenaga ahli/inti melaksanakan tugasnya memperbaiki pesawat-pesawat terbang peninggalan tentara Jepang yang belum dikuasai oleh pihak Belanda seperti pangkalan udara Cibaureum Tasikmalaya, Maguwo, Yogyakarta, Maospati, Madiun.

Setelah menyerah kedaulatan RI pada tanggal 27 Desember 1949, maka kesatuan ini diserahkan kepada AURIS dari ML, dengan tugas pokok melaksanakan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang/komponen milik AURIS. Sesuai dengan keputusan Menpangau Nomor 96/50/Pen/53 tanggal 31 Desember 1953 dan terhitung pada tanggal   1 Januari 1950, dinamakan Asisten I Direktur Perawatan Teknik I, sebagai pejabat Komandan ditunjuk Letnan Udara I Nurtanio Pringgo Adi Suryo beliau menjabat sampai dengan pangkat Mayor Udara dan diganti pada tanggal 1 Juni 1957 oleh Kapten Udara A. Patah yang menjabat sampai dengan 1 April 1958, Mayor Udara Nurtanio setelah tidak aktif di kesatuan ini mendirikan Depot Pembuatan Penelitian dan Pengembangan yang pada tahun 1960 dengan keputusan menpangau Nomor 480 Depot ini diresmikan menjadi lembaga yang diberi nama ”Lembaga Persiapan Industri Penerbangan” dan disingkat menjadi ”LAPIP”.  Pangkat terakhir beliau adalah Laksamana Muda Anumerta,  gugur pada bulan Maret 1966 bersama-sama Komodor Anumerta Supadio pada waktu bertugas melaksanakan pengujian terbang/test flight pesawat terbang bukan produksi LAPIP.  Personel Dari Asisten I Direktur Perawatan Teknik I, sebagian besar adalah bekas anggota “Yosida Butai” yang kembali dari daerah gerilya, lulusan sekolah teknik udara Maospati Madiun dan sebagian lagi bekas anggota ML/Belanda.

Berdasarkan surat keputusan menpagau nomer 73 tahun 1957 terhitung mulai tanggal  1 April 1957, kesatuan ini berganti nama menjadi Depot Perawatan Teknik Udara 1 yang memiliki tugas untuk memelihara Pesawat Pembom tipe B -25 Michel dan B-26 Invander, Pesawat baru taktis tipe P-51 Mustang, Pesawat angkut tipe C-47 Dakota, Pesawat SAR/Intai tipe PBY-5A, UF -1 Albatros, Helicopter dan Otter.

            Pada tanggal 17 Juli 1962, Depot Perawatan Teknik Udara 1 berganti dengan nama Depot Teknik 001, sesuai dengan Surat Keputusan menpagau nomor 131 tahun 1962.  Berdasarkan Surat Keputusan menpagau nomor 17 tahun 1965 Depot Teknik 001 menjadi Depot Teknik 011.      Pada tanggal 2 Mei 1966 dengan berdasarkan Kepada Keputusan Menpagau Nomor 45 Tahun 1966 Depo Teknik 011 berganti namanya menjadi Wing Logistik 010, perubahan nama ini diikuti juga dengan perubahan struktuk organisasinya, baik staf esselon staf maupun pelaksana.  Staf esselon organisasi Wing Logistik 010 adalah sebagai berikut:

  1. Skadron Teknik 011 merupakan pelaksana kegiatan pemeliharaan tingkat berat pesawat terbang.
  2. Skadron Teknik 012 pelaksana kegiatan untuk mendukung pemeliharaan pesawat terbang di Skadron Teknik 011 dan pemeliharaan komponen di Skadron Teknik 012.
  3. Skadron Teknik 013 merupakan pelaksana kegiatan pemeliharaan komponen pesawat terbang.