Berawal dari bantuan pemeliharaan lapangan (banharlap), pada tanggal 25 Oktober 1945 Bapak Basjir Soerya dan Tjarmadi datang ke Maguwo/Yogyakarta yang diterima oleh Bapak Brontak (Soedibyo) untuk memperbaiki beberapa pesawat jenis Cureng.

Hasilnya pada tanggal 26 Oktober 1945 tiga pesawat Cureng telah dapat disiapkan para teknisi dibawah pimpinan bapak Basjir Soerya. Awal kegiatan inilah yang merupakan momentum bersejarah lahirnya hasil karya teknisi putra-putra Indonesia dalam menyiapkan pesawat terbang Angkatan Udara Republik Indonesia yang merupakan embrio terbentuknya Koharmatau dikemudian hari. Keesokan harinya pada tanggal 27 Oktober 1945 satu dari tiga pesawat Cureng beridentitas Merah Putih tersebut telah diterbangkan oleh Bapak Agustinus Adisutjipto di atas Maguwo dan kota Yogyakarta selama setengah jam untuk yang pertama kalinya.

Pada hari berikutnya tanggal 28 Oktober 1945 pesawat diterbangkan lagi di atas kota Yogyakarta dengan disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia yang sedang mengikuti rapat raksasa di   Alun-alun Utara Yogyakarta menjelang Kongres Pemuda Indonesia dan dihadiri Kepala Negara Presiden Republik Indonesia bersama Kepala  Daerah Istimewa Yogjakarta Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Di dalam perjalanan sejarah Komando Pemeliharaan Materiel TNI Angkatan Udara telah mengalami beberapa kali tatanan organisasi, yaitu :

  1. Tahun 1963 — 1966 : Komando Logistik (Kolog) Yang Membawahi 13 Depot Teknik.
  2. Tahun 1966 — 1972 : Komando Logistik (Kolog) Yang Membawahi 8 Wing Log.
  3. Tahun 1972 — 1978 : Komando Logistik (Kolog) Yang Membawahi 5 Depot Logsitik, Pazam Dan Unit, dan Percetakan Blitek.
  4. Tahun 1978 — 1983 : Komando Materiil Tni Angkatan Udara Disingkat Komatau, Yang Membawahi 5 Wing Materiel.
  5. Tahun 1983 — 1985 : Komatau Diperluas Organisasinya Dengan Penambahan Unsur Staf Avionik Dan Binalut Yang Membawahi 5 Wing Materiel Dan 2 Skadron Avionik.
  6. Tahun 1985 — 1987 : Komatau Berubah Menjadi Koharmatau Berikut Terjadinya Perubahan Struktur Dalam Organisasi Dari Staf Umum Menjadi Staf Direktorat, Membawahi 5 Depo Pemeliharaan Dan 2 Sub Depo Avionik.
  7. Tahun 1987 — 1998 : Fungsi Koharmatau Sebagai Pembekalan Ditarik Oleh Mabesau Dan Likuidasi Menjadi Ditharkan Dan         Ditbinkapban. Dengan Membawahi 4 Depo Pemeliharaan Dan 2 Depo Elektronika.
  8. Tahun 1998 — 1999 : Koharmatau, Sebutan Depo Pesbang, Depolek, Depo Sarban Dan Depo Senamu Menjadi Depo Pemeliharaan (Depohar) 10, 30, 40, 50, 60 Dan 70 Ditambah Dua Skadron Avionik 01 Dan Skadron Avionik 02.
  9. Tahun 1999 — 2018 : Koharmatau, Membawahi Depo Pemeliharaan 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70.
  10. Tahun 2019 – Tepatnya Pada Tanggal 30 Juni 2019, Kepala Staf Tni Angkatan Udara Peresmian Depohar 80 Serta Sathar 24,43,54,55,81,82, Dan Sathar 83.

Pertimbangan Pimpinan, Dengan Pembentukan Depohar 80 Dan Beberapa Sathar, Memiliki Nilai Efisiensi Dan Efektifitas Dalam Program Pemeliharaan Alutsista Pesawat Tempur Dan Fasilitas Pendukung Penerbangan Lainnya Dalam Rangka Mendukung Tugas Operasi Dan Latihan Tni Angkatan Udara.

Dengan Demikian Koharmatau Membawahi 8 Depo Pemeliharaan.

Matriel depo-depo yang mendukung Komando Pemeliharaan Materiel TNI Angkatan Udara masing-masing mempunyai tugas sebagai berikut :

  • DEPO PEMELIHARAAN 10

Berlokasi di Bandung, tepatnya di Lanud Husein Sastranegara mempunyai tugas “Menyelenggarakan Dan Melaksanakan Pemeliharaan Tingkat Berat Bagi Pesawat Terbang Bersayap Putar, Pemeliharaan Komponen, Alat Uji Dan Kegiatan Fabrikasi”.

  • DEPO PEMELIHARAAN 20

Berlokasi di Madiun, tepatnya di Lanud lswahjudi mempunyai tugas “Menyelenggarakan Dan Melaksanakan Pemeliharaan Tingkat Berat Bagi Peralatan Avionik, Elektronika Khusus Pesawat Terbang Dan Sistem Elektronika Persenjataan Udara”.

  • DEPO PEMELIHARAAN 30

Berlokasi di Malang, tepatnya di Lanud Abdulrachman Saleh mempunyai tugas “Menyelenggarakan Dan Melaksanakan Pemeliharaan Tingkat Berat Bagi Pesawat Terbang Bersayap Tetap Bermotor Turbin Serta Pemeliharaan Engine, Komponen Listrik Dan Fabrikasi”.

  • DEPO PEMELIHARAAN 40

Berlokasi di Bandung, tepatnya di Lanud Sulaiman, mempunyai tugas “Menyelenggarakan Dan Melaksanakan Pemeliharaan Tingkat Berat Peralatan Komunukasi, Alat Bantu Navigasi Dan Elektronika Khusus”.

  • DEPO PEMELIHARAAN 50

Berlokasi di Solo, tepatnya di Lanud Adi Soemarmo mempunyai tugas “Menyelenggarakan Dan Melaksanakan Pemeliharaan Tingkat Berat Radar Dan Peralatannya”.

  • DEPO PEMELIHARAAN 60

Berlokasi di Madiun, tepatnya di Lanud lswahjudi mempunyai tugas “Menyelenggarakan Dan Melaksanakan Pemeliharaan Restoratif Senjata Serta Peralatannya” yang merupakan Super Control Item.

  • DEPO PEMELIHARAAN 70

Berlokasi di Bandung, tepatnya di Lanud Sulaiman mempunyai tugas “Menyelenggarakan Dan Melaksanakan Pemeliharaan Tingkat Berat Gse, Ransus, Allambang Sarbekud, Alpeka, Mesin Stationer, Produksi Materiel Dan Produksi Zat Asam Untuk Mendukung Pengoperasian Alut Sista Udara”.

  • DEPO PEMELIHARAAN 80

Berlokasi di Madiun, tempatnya di Lanud Iswahjudi mempunyai tugas “Melaksanakan Pemeliharaan Tingkat Berat Engine Pesawat Tempur Tni Angkatan Udara”.